THE LEGEND
of CRYING STONE
Dahulu kala di desa terpencil di atas bukit hiduplah
seorang janda yang mempunyai anak yang sangat cantik bernama Darmi. Darmi
memang bukan anak orang kaya. Ibunya hanya seorang janda miskin. Untuk
menghidupi mereka berdua ibunya bekerja membanting tulang dari pagi hingga
malam. Pekerjaan apapun dia lakukan. , Mencari kayu bakar di hutan, menyabit
rumput untuk pakan kambing tetangga, mencucikan baju orang lain,. Apapun dia
kerjakan untuk bisa memperoleh upah. Sebaliknya Darmi adalah anak yang manja.
Sedikitpun dia tidak iba melihat ibunya bekerja keras sepanjang hari. Bahkan
dengan teganya dia memaksa ibunya memberinya uang jika ada sesuatu yang ingin
dibelinya.
Suatu saat Darmi meminta uang pada ibunya untuk
membeli pakaian mahal, tetapi ibunya tidak punya uang.
“Uma, ayo berikan uang padaku! Besok akan ada pesta
di desa sebelah, aku harus pergi dengan memakai baju baru. Bajuku sudah usang
semua,” katanya. “tetapi Uma sudah tidak cukup lagi, nak!” kata ibunya. Darmi
tetap memaksa ibunya memberinya uang dengan berkata kasar dan tanpa
memperdulikan ibunya yang mengiba.“Alah itu kan urusan Uma buat cari uang lagi.
Baju yang kemarin itu kan sudah aku pakai, malu dong pakai baju yang itu-itu
lagi. Nanti apa kata orang! Sudahlah ayo berikan uangnya sekarang!” kata Darmi
dengan kasar. Terpaksa sang ibu memberikan uang yang diminta anaknya itu. Dia memang
sangat sayang dengan anak semata wayangnya itu.
Begitulah, hari demi hari sang ibu semakin tua dan
menderita. Sementara Darmi yang dikaruniai wajah yang cantik semakin boros.Kerjaannya
hanya menghabiskan uang untuk membeli baju-baju bagus, alat-alat kosmetik yang
mahal dan pergi ke pesta-pesta untuk memamerkan kecantikannya.
Darmi memandangi wajahnya lewat cermin yang
tergantung di dinding kamarnya.“Ah aku memang jelita,” katanya. “Lebih pantas
bagiku untuk tinggal di istana raja daripada di gubuk reot seperti ini.
Matanya
memandang ke sekeliling ruangan. Hanya selembar kasur yang tidak empuk tempat
dia tidur yang mengisi ruangan itu. Tidak ada meja hias yang sangat dia
dambakan. Bahkan lemari untuk pakaian pun hanya sebuah peti bekas. Darmi
mengeluh dalam hati.
Suatu hari Darmi meminta ibunya untuk
membelikannya bedak di pasar. Tapi Ibunya tidak tahu bedak apa yang dimaksud.
Lalu ibunya berinisiatif mengajaknya kepasar. Tetapi Darmi malu jika harus
berjalan beriringan dengan ibunya yang memakai pakaian kumuh dan kumal. “Ih,
aku malu berjalan bersama ibu. Apa kata orang nanti. Darmi yang jelita berjalan
dengan seorang nenek yang kumuh” katanya sambil mencibir. “Ya sudah kalau kau
malu berjalan bersamaku. Ibu akan berjalan di belakangmu,” dengan sabar ibunya
mengatakan akan berjalan di belakangnya dan tidak akan mengajaknya berbicara.
Akhirnya mereka pun berjalan beriringan. Sangat
ganjil kelihatannya. Darmi terlihat sangat cantik dengan baju merah mudanya
yang terlihat mahal dan dibelakangnya ibunya sudah bungkuk memakai baju lusuh
penuh tambalan. Di tengah jalan Darmi bertemu dengan teman-temannya dari desa
tetangga yang menyapanya, dan bertanya siapa wanita yang ada dibelakangnya .
Darmi menjawab bahwa yang berjalan dibelakangnya adalah pembantunya.
“Hai Darmi, mau pergi kemana kau?” sapa mereka.
“Aku mau ke pasar,” jawab Darmi.
“Oh, siapa nenek yang di belakangmu itu? Ibumu?”
tanya mereka.
“Oh bukan! Bukan!. Mana mungkin ibuku sejelek itu.
Dia itu cuma pembantuku,” sahut Darmi cepat-cepat.Betapa hancur hati ibunya
mendengar anak kesayangannya tidak mau mengakuinya sebagai ibunya sendiri.
Betapa hancur
hati ibunya mendengar anak kesayangannya tidak mau mengakuinya sebagai ibunya
sendiri. Namun ditahannya rasa dukanya di dalam hati.
Kejadian itu berulang terus-menerus sepanjang
perjalanan mereka. Semakin lama hati ibu semakin hancur. Akhirnya dia tidak
tahan lagi menahan kesedihannya. Sambil bercucuran air mata dia menegur anaknya
mengapa ia tidak mau mengakuinya sebagai ibunya.
“Wahai anakku sebegitu malunyakah kau mengakui aku
sebagai ibumu?. Tidak tahukah kamu Surga Ada Ditelapak Kaki umamu?.
Aku
yang melahirkanmu ke dunia ini. Apakah ini balasanmu pada ibumu yang
menyayangimu?”Darmi menoleh dan berkata, “Hah aku tidak minta dilahirkan
oleh ibu yang miskin sepertimu. Aku tidak pantas menjadi anak uma.
Lihatlah wajah ibu! Jelek, keriput dan lusuh! Uma
lebih pantas jadi pembantuku daripada jadi Umaku!” Usai mengucapkan kata-kata
kasar tersebut Darmi dengan angkuh kembali meneruskan langkahnya. Uma Darmi
sambil bercucuran air mata mengadukan dukanya Kepada Tuhan .
Wajahnya menengadah kelangit dan dari mulutnya keluarlah kutukan.
Tiba-tiba langit berubah mendung dan kilat
menyambar-nyambar diiringi guntur yang menggelegar. Darmi ketakutan dan hendak
berlari ke arah ibunya. Namun dia merasa kakinya begitu berat. Ketika dia
memandang ke bawah dilihatnya kakinya telah menjadi batu, lalu kini betisnya,
pahanya dan terus naik ke atas. Darmi ketakutan, dia berteriak meminta
pertolongan pada ibunya. Tapi ibunya hanya memandangnya dengan berderai air
mata.
Ibu Darmi tidak tega melihat anaknya menjadi batu,
tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Nasi sudah menjadi bubur. Kutukan yang
terucap tidak bisa ditarik kembali. Akhirnya dia hanya bisa memeluk anaknya
yang masih memohon ampun dan menangis hingga akhirnya suaranya hilang dan
seluruh tubuhnya menjadi batu.
Literary Appreciation
1.
Plot
·
Chronological Plot
Once upon a time, there was a poor woman
who has the beautiful daughter. Her name is Darmi. Darmi is a spoiled girl. She
was not pity to see her mother worked hard all day. In fact, she forced her
mother gave her the money if there is something you want to buy. She always
spent her money to buy nice clothes,
the expensive cosmetic and went to the parties to show off her
beauty.One day Darmi asked her mother to buy her powder on the market. But the
mother did not know what powder that she meant.
Then her mother took the initiative to
take him to the market. But Darmi shame if it should walk side by side with her
mother who worn grungy clothes and scruffy. Patiently, mother said it would
walk behind her and would not ask her to talk.Darmi was walking with her mother
to the market.
suddenly she met with the youth. When Darmi
was asked if the poor woman was her mother, Darmi not admit it because her
ragged appearance. Her mother was sad, and pray for justice in God. finally
thunderstorms grabbed the girl slowly.
She also became a stone, she was crying begged for mercy, but all too
late.
2.
Setting
·
Time
:
Ø Once upon a time
Once upon a time in a remote village on
the hill there was
an widow who had a very beautiful child
that is named
Darmi.
Ø One day
One day, Darmi asked her mother to buy her powder on
the market. But the mother did not know
what he meant
powder.
·
Place :
Ø
In
the village road
In the road, Darmi
meet up with friends from aNearbyvillage who greeted him."Hi Darmi, where
are you going?" Asked them."I'm going to the market," said
Darmi."Oh, who's grandmother who's behind it? Your mother? "They
asked."Oh no! Not!.
How could she
that bad. She was just a servant, "said Darmi.What destroyed his mother's
heart to hear her beloved child does not want to admit as his own mother.
Ø
In
a humble house
Darmi
looked at her face in the mirror that hung on her wall."Ah I was beautiful," he said. "It's
worthy for me
to
stay at the royal palace than in the rickety shacks like
this."Her
eyes scanned the room. Only a piece of
matterssthat
is not soft where she slept that filled
the
room. No dressing table who she is very much
wanted.
Even the locker room was only a former crate .
Darmi
groan inwardly.
·
Environment
:
Ø Touching. Quoted from
the sentence:
"O my
daughter, all that you're embarrassed to admit me as a mother? I who bring you
into this world. Is this your recompense to your mother who loves you? "
Darmi turned and
said, "Huh I did not ask to be born by the poor mothers like you. I do not
deserve to be your daughter. Look at the mother's face! Ugly, wrinkled and
shabby! You are more deserve to be a the servant rather than my mother! "
Ø Scary. Quoted from the
sentence:
Suddenly the sky
turned cloudy and lightning accompanied
by thunder. Darmi frightened and wanted to run towards her mother. But she felt
her legs were so heavy.
When she looked
down she saw her feet have become stone, and now her calves, thighs and continue
upward. Darmi was fear, he shouted for help to her mother. But her mother just
looked at her with tears.
Ø Angry. Quoted from the
sentence:
"Alah it
was mother's business to find money again. I have already wear this clothes
yesterday, I'm shy to wear this clothes again. Later, what are people say!
Anyway let's give the money now! "Said Darmi harshly.
3.
Character
:
Ø Participants
·
Darmi as a daughter
·
The Poor Woman as a
mother
Ø Attitude and behaviour
I.
Darmi :Arrogant, Idler, Spoiled, coercive, and
disobedience.Quoted
from the sentence:
·
Darmi looked at her
face in the mirror that hung on her wall."Ah I was beautiful," she
said. "It's appropriate for me to stay at the royal palace than in rickety
shacks like this.
·
Conversely Darmi is a
spoiled girl. She was not pity to see her mother worked hard all day.
·
In fact, she forced her
to give him money if there is something you want to buy."Mom, let's give
the money to me! Tomorrow there will be a party in the next village, I had to
get away with wearing new clothes. My shirt was worn all, "she said.
·
"Huh I did not ask
to be born by the poor mothers like you. I do not deserve to be your daughter.
Look at the mother's face! Ugly, wrinkled and shabby! You are more deserve to
be a the servant rather than my mother! "
II.
Mother:
kind, Patience, Hard Worker. Quoted from
Thesentence:
·
His mother was just a
poor widow. To support them both, his mother toiled from morning to night. Any
job he did. Looking for fir/ewood in the forest, cutting grass to feed the
neighbors goat, wash the clothes of others, whatever he was doing to earn the
wages
·
"Well if you're ashamed to walk with me.
Mother would walk behind you, "his mother said sadly.
4. Genre/ style : Tragedy
On Folklore
"The legend of Crying Stone"
tells the story about a girl named Darmi who rebel against her mother and does
not want to recognize her own mother. And in the end her mother cursed her into
stone.
5. Tone : Sad Ending
Because of
perfidious to her mother Darmi was cursed into stone and the people called that
stone is Crying Stone
6. Moral value : From the story we can take
lessons. We must respect our
parent,
especially our mother. Don’t be rebellious child. We must make our parent happy
and proud with us.
7. Purpose :Don’t be rebellious child
8. Theme : the daughter who have
disobeyed their parents.
9. Meaning :
·
General :
Uma
·
Specific : Ibu (Mother), Mama, Bunda
10. Device :
·
Structural
Ø Contrast
: when Darmi asked her mother to walk
behind her and don’t talk with her.
Ø Dialogue
: -
·
Science
Ø Symbolic word
: the poor woman. The beautiful girl
Ø Similarity : Membanting Tulang = Bekerja Keras
Ø Metaphor :
· Don’t
you know, there is a heaven
under
your mother’s palm.
· The
rice had been the porridge.

No comments:
Post a Comment